Latest Entries »

Dasar Ilmu Elektronika

DASAR ILMU ELEKTRONIKA

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemui suatu alat yang mengadopsi elektronika sebagai basis teknologinya contoh ; Dirumah, kita sering melihat televisi, mendengarkan lagu melalui tape atau CD, mendengarkan radio, berkomunikasi dengan telephone. Dikantor kita menggunakan komputer, mencetak dengan printer, mengirim pesan dengan faximile, berkomunikasi dengan telephone. Dipabrik kita memakai alat deteksi, mengoperasikan robot perakit, dan sebagainya. Bahkan dijalan raya kita bisa melihat lampu lalu-lintas, lampu penerangan jalan yang secara otomatis hidup bila malam tiba, atau papan reklame yang terlihat indah berkelap-kelip dan masih banyak contoh yang lainnya. Dari semua uraian diatas kita dapat membuktikan bahwa pada zaman sekarang ini kita tidak akan lepas dari perangkat yang menggunakan elektronika sebagai dasar teknologinya.

Revolusi besar-besaran terhadap elektronika terjadi sekitar tahun 1960-an, dimana saat itu mulai ditemukan suatu alat elektronika yang dinamakan Transisor, sehingga dimungkinkan untuk membuat suatu alat dengan ukuran yang kecil dimana sebelumnya alat-alat tersebut masih menggunakan tabung-tabung facum yang ukurannya besar serta mengkonsumsi listrik yang besar. Hanya dalam kurun waktu 10 tahun sejak ditemukan nya transistor, ditemukan sebuah rangkaian terintegrasi yang dikenal dengan IC ( Integrated Circuit ) merupakan sebuah rangkaian terpadu yang berisi puluhan bahkan jutaan transistor di dalamnya. Sehingga kita bisa melihat sebuah perangkat elektronika semakin kecil bentuknya tetapi semakin banyak fungsinya sebagai contoh telephone genggam ( Handphone ) yang anda pakai saat ini dengan telephone genggam yang anda pakai beberapa tahun yang lalu. Yah semua itu berkat revolusi Silikon sebagai bahan dasar pembuatan Transistor dan IC atau CHIP.

Baiklah, sampai disini saja gembar-gembor kita mengenai perkembangan elektronika. Tentunya anda sudah tidak sabar lagi ingin segera mempelajari teknologi elektronika, tapi bagi anda yang masih ingin mengetahui sejarah perkembangan elektronika anda bisa mencarinya dari berbagi sumber lain.

I.   KOMPONEN ELEKTRONIKA – RESISTOR

Resistor adalah komponen elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia berfungsi sebagai pengatur arus listrik. Dengan resistor listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Tentunya anda bertanya-tanya, apa itu resistor ?, seperti apa bentuknya ?, bagaimana cara kerjanya ?, oops…, nanti dulu saya baru akan menjelaskannya.
Ilustrasi Arus Air untuk mengetahui cara kerja Resistor

Setelah anda perhatikan animasi tadi, tentunya anda sudah mempunyai gambaran tentang bagaimana prinsip kerja dari sebuah resistor. Yah anda anggap saja arus air yang ada di animasi itu sebagai arus listrik, sedangkan bendungan sebagai resistornya. Jadi bila bendungan 1 kita anggap sebagai resistor 1 dan bendungan 2 sebagai resistor 2, maka besarnya arus tergantung dari besar kecilnya pintu bendungan yang kita buka. Semakin besar kita membuka pintu bendungan semakin besar juga arus yang melewati bendungan tersebut bila ingin lebih besar lagi arusnya, yah tidak usah dipasang bendungannya atau dibiarkan saja, jadi bila kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansi ( tahanan ) nya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Nah seperti itulah kira-kira fungsi Resistor dalam sebuah rangkaian elektronika.

Suatu fungsi dalam dunia teknik tentunya mempunyai satuan atau besaran, misalnya untuk berat kita tahu bahwa pada umumnya satuannya adalah “gram”, satuan jarak pada umumnya orang memakai satuan ” meter “. Nah untuk resistor satuannya adalah OHM, jadi mulai sekarang kita biasakan untuk menyebut besarnya nilai suatu resistor atau tahanan kita gunakan satuan OHM, yang sebenarnya berasal dari kata OMEGA. Maka tidaklah heran bila lambang dari OHM berbentuk seperti tapal kuda orang yunani menyebutnya omega entah kenapa demikian saya juga kurang paham karena saya bukan ahli sejarah he he he . Ok, jadi bila nanti anda melihat rangkaian elektronika lalu disitu tertulis misalnya 470 maka itu adalah sebuah resistor dengan nilai 470 OHM.., paham..!!.

Didalam rangkaian elektronika resistor dilambangkan dengan angka ” R ” , sedangkan icon nya seperti ini : . Ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain : Resistor Carbon, Wirewound, dan Metal Film. Ada juga Resistor yang dapat diubah-ubah nilai resistansinya antara lain : Potensiometer dan Trimpot. Selain itu ada juga Resistor yang nilai resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR ( Light Dependent Resistor ) dan Resistor yang yang nilai resistansinya berubah tergantung dari suhu disekitarnya namanya NTC ( Negative Thermal Resistance ) agar lebih jelas coba anda perhatikan gambar 1-a, dan animasi berikut ini :
Prinsip Dasar, Cara Kerja Sebuah LDR
Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor

Potensiometer L D R N T C Trimpot
Lambang-lambang dari beberapa Jenis Resistor

Hmmm…, bagaimana friend !. Saya rasa sampai disini anda sudah memahami prinsip kerja dari resisor. Sekarang mari kita lanjutkan dengan materi yang lain.

Untuk resistor jenis carbon maupun metalfilm biasanya digunakan kode-kode warna sebagai petunjuk besarnya nilai resistansi ( tahanan ) dari resistor. Kode-kode warna itu melambangkan angka ke-1, angka ke-2, angka perkalian dengan 10 ( multiflier ), nilai toleransi kesalahan, dan nilai qualitas dari resistor. Kode warna itu antara lain Hitam, Coklat, Merah, Orange, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Abu-abu, Putih, Emas dan Perak. ( lihat gambar 1-b dan tabel 1 ). Warna hitam untuk angka 0, coklat untuk angka 1, merah untuk angka 2, orange untuk angka 3, kuning untuk angka 4, hijau untuk angka 5, biru untuk angka 6, ungu untuk angka 7, abu-abu untuk angka 8, dan putih untuk angka 9. Sedangkan warna emas dan perak biasanya untuk menunjukan nilai toleransi yaitu emas nilai toleransinya 10 %, sedangkan perak nilai toleransinya 5 %.

Wah banyak sekali sulit untuk menghafalnya..!, hmmm.., kalau anda merasa kesulitan menghafal kode warna dari resistor beserta nilainya, coba perhatikan teks yang saya beri huruf tebal diatas. Kalau disatukan akan menjadi sebuah kata yang mungkin mudah bagi anda untuk menhafalnya ( Hi Co Me O Ku Hi B U A P == 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ). Ok sekali lagi coba anda lihat gambar 1-b dan tabel 1

KODE WARNA APPLET WARNA NILAI TOLERANSI
Hitam 0 —–
Coklat 1 —–
Merah 2 —–
Orange 3 —–
Kuning 4 —–
Hijau 5 —–
Biru 6 —–
Ungu 7 —–
Abu-abu 8 —–
Putih 9 —–
Emas 0,1 10 %
Perak 0,01 1 %

Nah sekarang mari kita mencoba membaca nilai suatu resistor. Misalkan anda melihat sebuah resistor dengan kode warna sebagai berikut : Coklat, merah, merah, dan emas. Berapa nilai resistansi dari resistor tersebut..?. ( Perlu diingat..! : Untuk membaca angka pertama dari kode warna resistor anda harus melihat warna yang paling dekat dengan ujung sebuah resistor dan biasanya untuk angka ke-1,2 dan 3 saling berdekatan sedangkan untuk kode warna dari toleransi agak jauh dari warna-warna yang lain, sekali lagi lihat gambar 1-b dan tabel 1

Untuk membaca kode warna resistor seperti yang dipermasalahkan diatas, kita mulai menerjemahkan satu persatu kode tersebut. Warna pertama Coklat, berarti angka 1, warna kedua warna merah, berarti angka 2, warna ketiga warna merah berarti multiflier, perkalian dengan 10 pangkat 2. kalau diterjemahkan 12 X 10 2 = 12 X 100 = 1200. Berarti 1200 Ohm. dengan nilai toleransi sebesar 10 %. Akurasi dari resistor tersebut berarti 1200 X ( 10 : 100 ) = 1200 X ( 1 : 10 ) = 120. ( he he he, itulah ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika yupsss, padahal saya juga pusing nih ngitung-ngitung yang ginian, ha ha ha.. selingan aja ) jadi nilai sebenarnya dari resistor tersebut adalah maximum 1200 + 120 = 1320 Ohm, sedangkan nilai minimum nya adalah 1200 – 120 = 1080 Ohm. Kenapa demikian …?. Karena karakteristik dari bahan baku resistor tidak sama, walaupun pabrik sudah mengusahakan agar dapat menjadi standart tetapi apa daya prosesnya menjadi tidak standart. Untuk itulah pabrik menyantumkan nilai toleransi dari sebuah resistor agar para designer dapat memperkirakan seberapa besar faktor x yang harus mereka fikirkan agar menghasilkan yang mereka kehendaki.

Sekarang coba saya kasih soal lalu anda cari nilai nya sendiri, ( buat PR . he he he…, kayak anak SD aja ). Soalnya begini : Didalam sebuah rangkaian saya melihat sebuah resistor jenis carbon dengan warna-warna sebagai berikut ; Merah, Kuning, Hijau dan Perak. Berapa nilai minimum dari resistor tersebut ?.

Di dalam praktek para designer sering kali membutuhkan sebuah resistor dengan nilai tertentu. Akan tetapi nilai resistor tersebut tidak ada di toko penjual, bahkan pabrik sendiri tidak memproduksinya. Lalu bagaimana solusinya..?. Nah…!, seperti yang pernah saya singgung diatas bahwa ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika, maka untuk mendapatkan suatu nilai resistor dengan resistansi yang unik dapat dilakukan dua cara ; Pertama cara SERIAL, dan yang kedua cara PARALEL. ( Wah.., nambah pusing lagi nih..! ). Dengan cara demikian maka masalah designer diatas dapat terpecahkan. Bagaimana cara Serial dan bagaimana pula cara Paralel, untuk lebih jelasnya coba anda perhatikan gambar 1-d.

Cara memasang Resistor cara Serial dan Paralel

Dengan Cara tersebut suatu nilai resistor dapat menjadi unik. Lalu bagaimana menghitungnya ?, Ehmm. mudah saja, untuk cara serial anda tinggal menambahkan saja nilai resistor 1 dan nilai resistor 2. ( R1 + R2 ) . Sedangkan untuk cara paralel anda dituntut untuk mengerti ALJABAR ( wah-wah lagi-lagi matematika ) tapi mudah kok. Kalau ingin mahir Matematika buka saja topik yang membahas khusus tentang matematika di situs ini juga. Ok kembali ke permasalahan. Untuk cara paralel ditentukan rumus sebagai berikut : misalkan kita memparalel dua buah resistor, resistor pertama diberi nama R1 dan resistor kedua diberi nama R2, maka rumusnya adalah : 1/R= ( 1/R1 ) + ( 1/R2 )

Contoh : Kita mempunyai dua buah resistor dengan nilai berikut R1=1000 Ohm , R2=2000 Ohm, bila kita menggunakan cara serial maka didapat hasil R1+R2 1000+2000 = 3000 Ohm, sedangkan bila kita menggunakan cara Paralel maka didapat hasil :

       1 / R = 1 / R1 + 1 / R2
       1 / R = (1/1000) + (1/2000)
       1 / R = (2000 + 1000) / (1000 X 2000)
       1 / R = (3000) / (2000000)
       1 / R = 3 / 2000
          3R = 2000
           R = 2000 / 3
           R = 666,7 Ohm -----> Resistor Hasil Paralel.

Tekhnik dan konsep dasar elektronika arus DC (searah)
27.08.2009 | Author: xtmxady | Article Posted in Elektronika
lainnya Arus Listrik,  lainnya Elektron,  lainnya Elektronika,  lainnya Isolator,  lainnya Konduktor,  lainnya Proton,

Berikut hal-hal yang penting diketahui didalam konsep dasar elektronika arus searah;
1. Listrik statis
– Semua materi didunia ini disusun oleh yang kita kenal dengan atom
– Semua atom berisi apa yang kita sebut dengan electron, proton, dan neutron
– Elektron bermuatan negative
– Proton bermuatan postif
– Neutron tidak memiliki muatan
– Electron lebih mudah terlepas dibandingkan dengan proton dan neutron
– Jumlah proton pada inti atom menandakan keunikan pada benda tersebut

2. konduktor, isolator, dan arus listrik
– Pada bahan konduktor, electron terluar pada setiap atom dapat mudah datang dan pergi, ini yang disebut dengan electron bebas dan pada bahan konduktor electron-elektron tersebut mudah bergerak.
– Pada bahan isulator, electron terluar pada atom tidak mudah bergerak sehingga electron tidak mudah terlepas.
– Semua logam adalah merupakan konduktor
– Listrik dinamis, atau arus listrik adalah bentuk dari pergeakan electron melalui konduktor. Listrik static tidak bergerak, jumlahnya adalah berdasarkan electron yang ada, dinyatakan dengan kekurangan atau kelebihan electron pada suatu benda.
– Agar electron dapat mengalir secara terus-menerus melalui konduktor, harus ada lintasan yang tidak terputus pada konduktor tersebut.3. rangkaian listrik
– Sebuah rangkaian listrik adalah loop dari bahan konduktor yang tak teputus sehingga terjadi aliran terus-menerus tanpa putus
– Jika sebuah rangkaian putus berarti konduktor atau penghantar tidak lagi pada bagian yang utuh, dan aliran electron tidak dapat melaluinya.
– Putusnya rangkaian dimanapun tidak lagi dapat membuat aliran electron secara terus-menerus. Putus dibagian manapun pada rangkaian akan mengakibatkan terhambatnya elektro melalui rangkaian.
4. Tegangan dan arus
– Electron dapat mengalir pada konduktor disebabkan adanya energi yang mendorong listrik statis.
– Voltage (tegangan) adalah hasil pengukuran dari energi potensial pada suatu benda antara dua titik.
– Voltage (tegangan) , adalah sebuah bentuk dari energi potensial, ini selalu relative antara dua titik. Terkadang kita juga menyebutnya dengan jatuh tegangan (“voltage drop” )
– Ketika sumber tegangan dihubungkan dengan rangkaian, tegangan akan menyebabkan electron mengalir melalui benda tersebut atau yang kita sebut dengan arus.
– Pada rangkaian tunggal, jumlah arus pada satu titik sama dengan pada titik lainnya.
– Jika rangkaian berisi sumber tegangan putus, maka tegangan penuh akan berada pada titik yang putus tersebut
– simbol +/- merupakan orientasi pada jatuh tegangan yang kita sebut dengan polaritas atau kutub. Ini juga relative antara dua titik.

5. hambatan
-Resistance (hambatan) adalah lawan dari arus listrik..
– Hubungan pendek adalah rangkaian listrik yang memiliki hambatan yang kecil atau bahkan tidak ada hambatan pada aliran electron. Hubungan pendek sangat berbahaya apabila pada sumber tegangan yang tinggi, sebab arus akan menyebabkan lepasnya jumlah energi berupa panas dalam jumlah besar.
– Rangkaian terbuka adalah ketika sebuah aliran telah rusak oleh sebuah interupsi pada aliran electron
– Rangkaian tertutup adalah sebuah rangkaian lengkap dengan nilai kontinuitas yang baik.
Sebuah alat yang didesain untuk mengontrol membuka dan menutup disebut dengan switch.

 

dasar elektronika

DASAR-DASAR ILMU ELEKTRONIKA

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemui suatu alat yang mengadopsi elektronika sebagai basis teknologinya contoh ; Dirumah, kita sering melihat televisi, mendengarkan lagu melalui tape atau CD, mendengarkan radio, berkomunikasi dengan telephone. Dikantor kita menggunakan komputer, mencetak dengan printer, mengirim pesan dengan faximile, berkomunikasi dengan telephone. Dipabrik kita memakai alat deteksi, mengoperasikan robot perakit, dan sebagainya. Bahkan dijalan raya kita bisa melihat lampu lalu-lintas, lampu penerangan jalan yang secara otomatis hidup bila malam tiba, atau papan reklame yang terlihat indah berkelap-kelip dan masih banyak contoh yang lainnya. Dari semua uraian diatas kita dapat membuktikan bahwa pada zaman sekarang ini kita tidak akan lepas dari perangkat yang menggunakan elektronika sebagai dasar teknologinya.

Revolusi besar-besaran terhadap elektronika terjadi sekitar tahun 1960-an, dimana saat itu mulai ditemukan suatu alat elektronika yang dinamakan Transisor, sehingga dimungkinkan untuk membuat suatu alat dengan ukuran yang kecil dimana sebelumnya alat-alat tersebut masih menggunakan tabung-tabung facum yang ukurannya besar serta mengkonsumsi listrik yang besar. Hanya dalam kurun waktu 10 tahun sejak ditemukan nya transistor, ditemukan sebuah rangkaian terintegrasi yang dikenal dengan IC ( Integrated Circuit ) merupakan sebuah rangkaian terpadu yang berisi puluhan bahkan jutaan transistor di dalamnya. Sehingga kita bisa melihat sebuah perangkat elektronika semakin kecil bentuknya tetapi semakin banyak fungsinya sebagai contoh telephone genggam ( Handphone ) yang anda pakai saat ini dengan telephone genggam yang anda pakai beberapa tahun yang lalu. Yah semua itu berkat revolusi Silikon sebagai bahan dasar pembuatan Transistor dan IC atau CHIP.

Baiklah, sampai disini saja gembar-gembor kita mengenai perkembangan elektronika. Tentunya anda sudah tidak sabar lagi ingin segera mempelajari teknologi elektronika, tapi bagi anda yang masih ingin mengetahui sejarah perkembangan elektronika anda bisa mencarinya dari berbagi sumber lain.

I.   KOMPONEN ELEKTRONIKA – RESISTOR

Resistor adalah komponen elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia berfungsi sebagai pengatur arus listrik. Dengan resistor listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Tentunya anda bertanya-tanya, apa itu resistor ?, seperti apa bentuknya ?, bagaimana cara kerjanya ?, oops…, nanti dulu saya baru akan menjelaskannya.
Ilustrasi Arus Air untuk mengetahui cara kerja Resistor

Setelah anda perhatikan animasi tadi, tentunya anda sudah mempunyai gambaran tentang bagaimana prinsip kerja dari sebuah resistor. Yah anda anggap saja arus air yang ada di animasi itu sebagai arus listrik, sedangkan bendungan sebagai resistornya. Jadi bila bendungan 1 kita anggap sebagai resistor 1 dan bendungan 2 sebagai resistor 2, maka besarnya arus tergantung dari besar kecilnya pintu bendungan yang kita buka. Semakin besar kita membuka pintu bendungan semakin besar juga arus yang melewati bendungan tersebut bila ingin lebih besar lagi arusnya, yah tidak usah dipasang bendungannya atau dibiarkan saja, jadi bila kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansi ( tahanan ) nya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Nah seperti itulah kira-kira fungsi Resistor dalam sebuah rangkaian elektronika.

Suatu fungsi dalam dunia teknik tentunya mempunyai satuan atau besaran, misalnya untuk berat kita tahu bahwa pada umumnya satuannya adalah “gram”, satuan jarak pada umumnya orang memakai satuan ” meter “. Nah untuk resistor satuannya adalah OHM, jadi mulai sekarang kita biasakan untuk menyebut besarnya nilai suatu resistor atau tahanan kita gunakan satuan OHM, yang sebenarnya berasal dari kata OMEGA. Maka tidaklah heran bila lambang dari OHM berbentuk seperti tapal kuda orang yunani menyebutnya omega entah kenapa demikian saya juga kurang paham karena saya bukan ahli sejarah he he he . Ok, jadi bila nanti anda melihat rangkaian elektronika lalu disitu tertulis misalnya 470 maka itu adalah sebuah resistor dengan nilai 470 OHM.., paham..!!.

Didalam rangkaian elektronika resistor dilambangkan dengan angka ” R ” , sedangkan icon nya seperti ini : . Ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain : Resistor Carbon, Wirewound, dan Metal Film. Ada juga Resistor yang dapat diubah-ubah nilai resistansinya antara lain : Potensiometer dan Trimpot. Selain itu ada juga Resistor yang nilai resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR ( Light Dependent Resistor ) dan Resistor yang yang nilai resistansinya berubah tergantung dari suhu disekitarnya namanya NTC ( Negative Thermal Resistance ) agar lebih jelas coba anda perhatikan gambar 1-a, dan animasi berikut ini :
Prinsip Dasar, Cara Kerja Sebuah LDR
Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor

Potensiometer L D R N T C Trimpot
Lambang-lambang dari beberapa Jenis Resistor

Hmmm…, bagaimana friend !. Saya rasa sampai disini anda sudah memahami prinsip kerja dari resisor. Sekarang mari kita lanjutkan dengan materi yang lain.

Untuk resistor jenis carbon maupun metalfilm biasanya digunakan kode-kode warna sebagai petunjuk besarnya nilai resistansi ( tahanan ) dari resistor. Kode-kode warna itu melambangkan angka ke-1, angka ke-2, angka perkalian dengan 10 ( multiflier ), nilai toleransi kesalahan, dan nilai qualitas dari resistor. Kode warna itu antara lain Hitam, Coklat, Merah, Orange, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Abu-abu, Putih, Emas dan Perak. ( lihat gambar 1-b dan tabel 1 ). Warna hitam untuk angka 0, coklat untuk angka 1, merah untuk angka 2, orange untuk angka 3, kuning untuk angka 4, hijau untuk angka 5, biru untuk angka 6, ungu untuk angka 7, abu-abu untuk angka 8, dan putih untuk angka 9. Sedangkan warna emas dan perak biasanya untuk menunjukan nilai toleransi yaitu emas nilai toleransinya 10 %, sedangkan perak nilai toleransinya 5 %.

Wah banyak sekali sulit untuk menghafalnya..!, hmmm.., kalau anda merasa kesulitan menghafal kode warna dari resistor beserta nilainya, coba perhatikan teks yang saya beri huruf tebal diatas. Kalau disatukan akan menjadi sebuah kata yang mungkin mudah bagi anda untuk menhafalnya ( Hi Co Me O Ku Hi B U A P == 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ). Ok sekali lagi coba anda lihat gambar 1-b dan tabel 1

KODE WARNA APPLET WARNA NILAI TOLERANSI
Hitam 0 —–
Coklat 1 —–
Merah 2 —–
Orange 3 —–
Kuning 4 —–
Hijau 5 —–
Biru 6 —–
Ungu 7 —–
Abu-abu 8 —–
Putih 9 —–
Emas 0,1 10 %
Perak 0,01 1 %

Nah sekarang mari kita mencoba membaca nilai suatu resistor. Misalkan anda melihat sebuah resistor dengan kode warna sebagai berikut : Coklat, merah, merah, dan emas. Berapa nilai resistansi dari resistor tersebut..?. ( Perlu diingat..! : Untuk membaca angka pertama dari kode warna resistor anda harus melihat warna yang paling dekat dengan ujung sebuah resistor dan biasanya untuk angka ke-1,2 dan 3 saling berdekatan sedangkan untuk kode warna dari toleransi agak jauh dari warna-warna yang lain, sekali lagi lihat gambar 1-b dan tabel 1

Untuk membaca kode warna resistor seperti yang dipermasalahkan diatas, kita mulai menerjemahkan satu persatu kode tersebut. Warna pertama Coklat, berarti angka 1, warna kedua warna merah, berarti angka 2, warna ketiga warna merah berarti multiflier, perkalian dengan 10 pangkat 2. kalau diterjemahkan 12 X 10 2 = 12 X 100 = 1200. Berarti 1200 Ohm. dengan nilai toleransi sebesar 10 %. Akurasi dari resistor tersebut berarti 1200 X ( 10 : 100 ) = 1200 X ( 1 : 10 ) = 120. ( he he he, itulah ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika yupsss, padahal saya juga pusing nih ngitung-ngitung yang ginian, ha ha ha.. selingan aja ) jadi nilai sebenarnya dari resistor tersebut adalah maximum 1200 + 120 = 1320 Ohm, sedangkan nilai minimum nya adalah 1200 – 120 = 1080 Ohm. Kenapa demikian …?. Karena karakteristik dari bahan baku resistor tidak sama, walaupun pabrik sudah mengusahakan agar dapat menjadi standart tetapi apa daya prosesnya menjadi tidak standart. Untuk itulah pabrik menyantumkan nilai toleransi dari sebuah resistor agar para designer dapat memperkirakan seberapa besar faktor x yang harus mereka fikirkan agar menghasilkan yang mereka kehendaki.

Sekarang coba saya kasih soal lalu anda cari nilai nya sendiri, ( buat PR . he he he…, kayak anak SD aja ). Soalnya begini : Didalam sebuah rangkaian saya melihat sebuah resistor jenis carbon dengan warna-warna sebagai berikut ; Merah, Kuning, Hijau dan Perak. Berapa nilai minimum dari resistor tersebut ?.

Di dalam praktek para designer sering kali membutuhkan sebuah resistor dengan nilai tertentu. Akan tetapi nilai resistor tersebut tidak ada di toko penjual, bahkan pabrik sendiri tidak memproduksinya. Lalu bagaimana solusinya..?. Nah…!, seperti yang pernah saya singgung diatas bahwa ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika, maka untuk mendapatkan suatu nilai resistor dengan resistansi yang unik dapat dilakukan dua cara ; Pertama cara SERIAL, dan yang kedua cara PARALEL. ( Wah.., nambah pusing lagi nih..! ). Dengan cara demikian maka masalah designer diatas dapat terpecahkan. Bagaimana cara Serial dan bagaimana pula cara Paralel, untuk lebih jelasnya coba anda perhatikan gambar 1-d.

Cara memasang Resistor cara Serial dan Paralel

Dengan Cara tersebut suatu nilai resistor dapat menjadi unik. Lalu bagaimana menghitungnya ?, Ehmm. mudah saja, untuk cara serial anda tinggal menambahkan saja nilai resistor 1 dan nilai resistor 2. ( R1 + R2 ) . Sedangkan untuk cara paralel anda dituntut untuk mengerti ALJABAR ( wah-wah lagi-lagi matematika ) tapi mudah kok. Kalau ingin mahir Matematika buka saja topik yang membahas khusus tentang matematika di situs ini juga. Ok kembali ke permasalahan. Untuk cara paralel ditentukan rumus sebagai berikut : misalkan kita memparalel dua buah resistor, resistor pertama diberi nama R1 dan resistor kedua diberi nama R2, maka rumusnya adalah : 1/R= ( 1/R1 ) + ( 1/R2 )

Contoh : Kita mempunyai dua buah resistor dengan nilai berikut R1=1000 Ohm , R2=2000 Ohm, bila kita menggunakan cara serial maka didapat hasil R1+R2 1000+2000 = 3000 Ohm, sedangkan bila kita menggunakan cara Paralel maka didapat hasil :

1 / R = 1 / R1 + 1 / R2

1 / R = (1/1000) + (1/2000)

1 / R = (2000 + 1000) / (1000 X 2000)

1 / R = (3000) / (2000000)

1 / R = 3 / 2000

3R = 2000

R = 2000 / 3

R = 666,7 Ohm —–> Resistor Hasil Paralel.

SERVIS TV AKARI 14″

keluhan dari tv ini yaitu gambar bagus tapi suara noise. Tv ini menggunakan IC prog PTCS030201 dan IC croma LA 76810.
langkah yg saya lakukan adalah masuk SERMOD dengan menekan MENU(TV)+SLEEP(remote), memang data sif sys terubah ke 6,0mhz yang seharusnya 5,5mhz.
setelah merubah ke 5,5mhz suara normal tapi begitu keluar dari sermod suara kembali noise lagi..ada apa ini????????????
rupanya ic memory tidak mau safe data yang telah saya rubah tadi…..akhirnya meluncur ke toko nanya ic memory akari yang sudah di flash……alhamdulillah ada.
langsung pasang …..auto search untuk cari cannel……..jreng suara timbul.
cuma gambar agak ketinggian sedikit, masuk sermod lagi atur Vsize…..ok deh.

dibawah ini datanya
00
osd contrast 60
sub bright 80
sub contrast 55
sub collor 63
sub tint 80
sub sharp 50

01
red bias 127
green bias 160
blue bias 140
red drive 63
green drive 8
blue drive 63

02
V pos/50mhz 10
V pos/60mhz 20
Vsize/50mhz 58
Vsize/60mhz 90
Vsc 18
Vlinearity 15
Vsize CMP 6

03
H freq 20
H phase/50mhz 10
H phase/60mhz 13
H blk L 2
H blk R 5
blank def 0
coring enable 0

04
collor sya 2
sif sys sw 5,5
C ext 0
C bypass 0
C kill on 0
C kill off 0

05
syn kill 0
rf agc delay 18
V kill 0
cross B/W 0
fm level 12
video level 6

06
digital osd 0
audio sw 0
video sw 0
AKB def 1
auto fresh 0
count down mod 0
gray mode 0
vsync sep up 0

07
killer sys 2
volume filter 0
Vif sys sw 38,9
brt abl def 1
brt abl treshold 0
brt mod stop def 0
emg abl def 1

08
afc gain and gate 0
secam B-y dc 8
secam R-y dc 8
R-y/B-y gain bal 8
R-y/B-y angle 8
B gamma seleck 3
RG gamma def 0

09
audio mute 0
fm mute 0
video mute 0
sound trap 4
fm gain 0
de emphasis tc 0
fbp blk sw 0

10
disable 0
vertikal tes 0
tint test 0
collor test 1
drive test 0
contrast test 0
osd contras test 0
AKB tes 0

11
osd H position 12
opt collor sys 1
opt sif sys 0
bass opt no
cen spk opt no

Diposkan oleh Wah yudi di 10/15/2010 0 komentar Link ke posting ini

Reaksi:

Servis TV SHARP 21

(IXA983WJ, STR W6753, M61251CF, AN178208, STV9302A)

Note:
Q751 : REG 5v
Q752 : REG 8v
Q804 : ACL buffer
Q801 : REG 8,7v
Q753 : REG 5v
Q1001 : sound mute
Q201 : IF pre amp
DZ201 : REG 33v
DZ603 : REG 27v
Q754 : REG 5v
Q1073 : spot discharge circuit
Q603 : heater protector circuit

Diposkan oleh Wah yudi di 7/16/2010 1 komentar Link ke posting ini

TV Akari Tidak bunyi

kemarin dapat servisan tv akari dengan IC croma TA 8690, keluhan dari siempunya yaitu tv tidak ada suara tapi gambar bagus.
setelah memperbaiki semua solderan dan belum membuahkan hasil dilanjutkan penggantian kristal pada FM detector 5,5mhz………coba tv di nyalakan jrenggggggg suara bisa nongol……..
tapi kok masih ada suara dengung…..dengan peggantian condesantor copel unuk input dan output blog audio suara dengung bisa dihilangkan…
salam sukses selalu…..

Diposkan oleh Wah yudi di 6/09/2010 0 komentar Link ke posting ini

Label: tv

TV INTEL frequensi selalu bergeser

Tv intel ini menggunakan ic croma TA8690, dimana keluhan si empunya tv bahwa pada saat dinyalakan untuk pertama kali gambar tampak normal tapi beberapa detik kemudian gambar jadi meleot2/tidak bisa ditonton………

pada saat saya coba memang benar pada saat pertama tv on gambar memang tampak normal untuk beberapa detik tapi suara agak timbul tenggelam
aksi pertama yang saya lakukan cek semua solderan….. apabila sudah dirasa ok, coba tv di onkan kemabli dan hasilnya……masih sama seperti semula.
aksi kedua mempraktekan pengalaman teman2 yang sdh di tulis di blog…….hasilnya juga nihil……waktu auto search channel tidak mau pindah.
karena capek coba sana sini belum ada hasil istirahat dulu ahhh……….
setelah badan terasa fresh pelacakan kerusakan di lanjutkan kembali….coba saya ukur tegangan vt dan tegangan AFT out.
pada channel kosong teg VT menunjukan 0,7v dan AFT OUT 3,2v.……iseng2 saya justment trafo AFT dan teg aft bisa turun ke 1,5v kemudian saya justment trafo IF dan teg bisa 0,7v,coba auto search dan………….hasilnya semua channel bisa tertangkap.
saya sempat kurang yakin saya coba ulangi langkah di atas dan hasilnya memang mak….nyosssssss…….
untuk suara yang timbul tenggelam bisa mengikuti trik kang zaenal…….dengan mengganti kristal 5,5 dengan modifikasi trfo if fm.
salam dan sukses untuk semua…………..

Komunikasi Antar IC dengan IIC
1. Latar Belakang dan Konsep IIC
Pada saat ini desain elektronik dituntut untuk semakin ringkas dan fleksibel, dimana ukuran fisik IC semakin diperkecil dan jumlah pin diminimalkan dengan tetap menjaga fleksibilitas dan kompabilitas IC sehingga mudah untuk digunakan dalam berbagai keperluan desain yang berbeda, oleh karenanya banyak perusahaan semikonduktor yang berusaha mengembangkan cara baru komunikasi antar IC yang lebih akomodatif terhadap tuntutan diatas sebagai alternatif dari hubungan antar IC secara paralel (parallel bus) yang sudah kita kenal luas. Salah satu metode yang telah matang dan dipakai secara luas adalah IIC (sering ditulis juga I2C) singkatan dari Inter Integrated Circuit bus yang dikembangkan oleh Philips Semiconductor sejak tahun 1992, dengan konsep dasar komunikasi 2 arah antar IC dan/atau antar sistem secara serial menggunakan 2 kabel. 

2. Fitur Utama IIC
Fitur utama I2C bus adalah sebagai berikut :
Hanya melibatkan dua kabel yaitu serial data line (selanjutnya disebut SDA) dan serial clock line (selanjutnya disebut SCL).
Setiap IC yang terhubung dalam I2C memiliki alamat yang unik yang dapat diakses secara software dengan master/slave protocol yang sederhana, dan mampu mengakomodasikan multi master (akan dijelaskan lebih detil pada bagian lain).
I2C merupakan serial bus dengan orientasi data 8 bit (byte), komunikasi 2 arah, dengan kecepatan transfer data sampai 100Kbit/s pada mode standart dan 3,4 Mbit/s pada mode kecepatan tinggi.
Jumlah IC yang dapat dihubungkan pada I2C bus hanya dibatasi oleh beban kapasitansi pada bus yaitu maksimum 400pF.

3. Keuntungan I2C
Keuntungan yang didapat dengan menggunakan I2C antara lain :
Meminimalkan jalur hubungan antar IC (bandingkan dengan parallel bus !).
Menghemat luasan PCB yang dibutuhkan.
Membuat sistem yang didesain berorientasi software (mudah diekspan dan diupgrade).
Membuat sistem yang didesain menjadi standart, sehingga dapat dihubungkan dengan sistem lain yang juga menggunakan I2C bus.

4. Cara kerja I2C Bus
Sebelum memahami cara kerjanya, ada beberapa terminologi, karakter dan kondisi penting dalam I2C yang harus dipahami terlebih dahulu, yaitu :

4.1 Terminologi
Transmitter yaitu device yang mengirim data ke bus.
Receiver yaitu device yang menerima data dari bus.
Master yaitu device yang memiliki inisiatif (memulai dan mengakhiri) transfer data dan yang membangkitkan sinyal clock.

Slave yaitu device yang dialamati (diakses berdasarkan alamatnya) oleh Master.
Multi-master yaitu sistem yang memungkinkan lebih dari satu Master melakukan initiatif transfer data dalam waktu yang bersamaan tanpa terjadi korupsi data.
Arbitration yaitu prosedur yang memastikan bahwa jika ada lebih dari satu Master melakukan inisiatif transfer data secara bersamaan, hanya akan ada satu Master yang diperbolehkan dengan tanpa merusak data yang sedang ditransfer.
Synchronization yaitu prosedur untuk menyelaraskan sinyal clock dari dua atau lebih device. 

Gambar 1
Contoh Sistem dengan IIC Bus

4.2 Karakter perangkat keras
Kedua pin pada I2C yaitu SDA dan SCL harus memiliki kemampuan input dan output serta bersifat open drain atau open collector .
Kedua pin tersebut terhubung pada I2C bus yang telah di pull-up dengan resistor ke suplai positif dari sistem
Semua device yang terhubung pada bus harus terhubung pada ground yang sama sebagai referensi.


GAMBAR 2
KONEKSI IIC BUS

Komunikasi Antar IC dengan IIC – Halaman 1
4.3 Karakter Transfer Data Bit
Data bit dikirim/diterima melalui SDA, sedangkan sinyal clock dikirim/diterima melalui SCL, dimana dalam setiap transfer data bit satu sinyal clock dihasilkan, transfer data bit dianggap valid jika data bit pada SDA tetap stabil selama sinyal clock high, data bit hanya boleh berubah jika sinyal clock dalam konsisi low, lihat gambar 3. 


GAMBAR 3
TRANSFER DATA BIT PADA I2C BUS

4.4 Karakter Transfer Data Byte
I2C Bus berorientasi pada 8 bit data (byte), dengan most significant bit / MSB ditransfer terlebih dulu, serta 2 macam data byte yaitu Address Byte dan Data Byte.

4.5 Kondisi
4.5.1 START dan STOP

Apabila pada SDA terjadi transisi dari kondisi high ke kondisi low pada saat SCL berkondisi high, maka terjadilah kondisi START.

Apabila pada SDA terjadi transisi dari kondisi low ke kondisi high pada saat SCL berkondisi high, maka terjadilah kondisi STOP.

Kondisi START dan STOP selalu dibangkitkan oleh Master, dan bus dikatakan sibuk setelah START dan dikatakan bebas setelah STOP.

GAMBAR 4
KONDISI START DAN STOP

4.5.2 ACK dan NACK
Kondisi ACK terjadi apabila receiver “menarik” SDA pada kondisi low selama 1 sinyal clock.

Kondisi NACK terjadi apabila receiver “membebaskan” SDA pada kondisi high selama 1 sinyal clock.

GAMBAR 5
KONDISI ACK DAN NACK

4.5 Cara kerja I2C Bus (Format 7 bit address)
Cara kerja I2C bus dapat dibedakan menjadi format 7 bit addressing dan format 10 bit addressing, dalam artikel ini hanya akan dibahas format 7 bit addressing, untuk format 10 bit addressing dapat anda baca keterangan lengkapnya dalam “The I2C-BUS Specification Version 2.1 January 2000” yang dirilis oleh Philips Semiconductor. Inisiatif komunikasi/transfer data selalu oleh Master dengan mengirimkan kondisi START diikuti dengan address byte (7 bit address + 1 bit pengarah/data direction bit) seperti pada ilustrasi dibawah ini 

GAMBAR 6
FORMAT ADDRESS BYTE

Ada dua jenis komunikasi dasar dalam I2C bus yaitu :
Master-transmitter menulis data ke slave-receiver yang teralamati
Master-receiver membaca data dari slave-transmitter yang teralamati

GAMBAR 7
TRANSFER DATA LENGKAP I2C BUS


GAMBAR 8
Master-transmitter menulis data ke slave-receiver yang teralamati


GAMBAR 9
Master-receiver membaca data dari slave-transmitter yang teralamati

Komunikasi Antar IC dengan IIC – Halaman 2
GAMBAR 10
KOMBINASI MASTER-TRANSMITTER DAN MASTER RECEIVER
 

Address byte terdiri dari bagian yang tetap dan bagian yang dapat diprogram, bagian yang tetap merupakan bawaan dari IC , sedangkan yang dapat diprogram biasanya berupa pin address pada IC yang bersangkutan, sebagai contoh IC PCF8591, memiliki address byte sbb : 1 0 0 1 A2 A1 A0 , dimana 1001 adalah bagian yang tetap dan A2,A1,A0 adalah bagian yang dapat diprogram sesuai dengan kondisi logika pada pin IC PCF8591.

Sinyal Acknowledge (ACK) terjadi :
Dari Slave ke Master Transmitter :
Sesudah address byte diterima dengan baik oleh slave
Setiap kali slave selesai menerima data byte dengan baik

Dari Master Receiver ke Slave :
Setiap kali Master selesai menerima data byte dengan baik

Sinyal Negative Acknowledge (NACK) terjadi :
Dari Slave ke Master Transmitter :
Setelah slave gagal menerima address byte dengan baik
Setiap kali slave gagal menerima data byte dengan baik
Slave tidak terhubung pada bus

Dari Master Receiver ke slave :
Setelah Master menerima data byte yang terakhir dari slave

5. Multi Master
Pada I2C bus bisa terjadi situasi dimana lebih dari 1 device mengambil initiatif transfer data sebagai Master, dengan protocol Master/slave dan karakter hardware open drain/open collector yang bersifat wired AND, hal ini tidak menyebabkan terjadinya korupsi data, inilah yang disebut dengan Multi Master.

Untuk dapat melakukan Multi Master ada 2 hal yang penting yaitu Clock Synchronization dan Arbitration.

5.1 Clock Synchronization

GAMBAR 11
CLOCK SYNCHRONIZATION
 

Karena sifat wired AND dari I2C bus, dimana jika salah satu device menarik bus dalam kondisi low maka device lain tidak dapat membuat bus tersebut menjadi high (sifat dari logika AND), sehingga jika ada lebih dari satu device yang melakukan initiatif transfer data sebagai Master dengan membangkitkan sinyal clock pada SCL pada saat yang bersamaan harus ada sinkronisasi clock yang dapat dijelaskan (seperti terlihat pada gambar 10 diatas) sebagai berikut :

– Jika Master1 (Clock 1) memulai periode low sinyal clock-nya, maka SCL menjadi low, Master2 mendeteksi kondisi tersebut dan harus juga memulai menghitung periode low sinyal clock-nya.
Saat Master1 (Clock 1) akan memulai periode high sinyal clock-nya dan mendeteksi bahwa SCL masih dalam kondisi low (disebabkan periode low sinyal clock dari Master 2 (Clock 2) masih belum selesai) maka dia harus menunggu dan tidak menghitung periode high sinyal clock-nya terlebih dahulu.
– Saat Master2 (Clock 2) memulai periode high sinyal clock-nya, maka kondisi SCL mehjadi high, Master1 (Clock1) yang mendeteksi kondisi tersebut juga harus memulai menghitung periode high sinyal clock-nya.
– Karena Master 1 (Clock1) terlebih dahulu menyelesaikan periode high sinyal clock-nya dan memulai periode low maka kondisi SCL menjadi low, maka Master 2 (Clock 2) yang mendeteksi kondisi tersebut juga harus memulai menghitung periode low sinyal clock-nya, demikian seterusnya sehingga terjadilah sinkronisasi sinyal clock antara Master1 dan Master2.

Secara singkat sinkronisasi clock dapat disimpulkan sbb:
1. Jika kondisi SCL tetap low pada saat Master mencoba membuatnya high, maka Master tersebut harus memulai mengitung periode low sinyal clock-nya
2. Jika Master akan memulai periode high sinyal clock-nya, maka Master tersebut harus menunggu kondisi SCL menjadi high sebelum memulai menghitung periode high sinyal clock-nya.

Sehingga sinkronisasi clock yang terbentuk sbb:

Komunikasi Antar IC dengan IIC – Halaman 3
– Periode low akan mengikuti periode low dari device yang membangkitkan sinyal clock dengan periode low yang terpanjang.
– Periode high akan mengikuti periode high dari device yang membangkitkan sinyal clock dengan periode high yang terpendek.

5.2 Arbitration
 


GAMBAR 12
ARBITRATION

Dalam Multi Master, bisa terjadi kemungkinan lebih dari satu device melakukan initiatif transfer data menjadi Master, walaupun transfer data hanya bisa dilakukan jika kondisi bus bebas, tetapi sangat memungkinkan lebih dari satu device mendeteksi kondisi bus sebagai bebas dan membangkitkan kondisi START sedikit berselisih waktu tetapi masih dalam batas-batas kondisi START yang valid. Untuk kondisi seperti dijelaskan diatas, maka arbitration diberlakukan bit demi bit hingga selesai, dimana sekali lagi sifat/karakter bus yang wired AND memungkinkan hal tersebut terjadi.

Untuk jelasnya perhatikan gambar 11 diatas yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
– Ambil contoh Master 1 (Data 1) akan mentrasfer data 101xxxxxB sedangkan Master 2 (Data 2) akan mentransfer data 100101xxB.
– Kedua Master mendeteksi bus dalam keadaan bebas, dan membangkitkan sinyal START yang hampir bersamaan, Master 1 lebih dahulu membangkitkan START sehingga kondisi SDA mengikuti Master 1, baru kemudian Master 2 membangkitkan START, tetapi kondisi START pada SDA masih valid untuk Master2.

– Kedua Master mentransfer MSbit (sama-sama “1”), kemudian data bit berikutnya (sama-sama “0”), pada bit yang berikutnya Master1 berusaha untuk membuat SDA high sesuai dengan data bit-nya, sedangkan Master 2 berusaha untuk membuat SDA low (sesuai dengan data bit-nya), karena sifat wired AND dari SDA, maka kondisi SDA menjadi low, karena itu Master 1 dikatakan kehilangan arbitrasi (dengan kata lain bisa disebut sebagai kehilangan kontrol) atas SDA.
– Bagi Master 1 yang kehilangan arbitrasi bisa terus membangkitkan sinyal clock sampai transfer data selesai dan bus dalam kondisi bebas lagi, bagi Master 2 yang memenangkan arbitrasi (mendapat kontrol) atas SDA dapat menyelesaikan transfer data-nya tanpa ada data yang terkorupsi sama sekali.  

6. Kesimpulan
Komunikasi I2C dapat memenuhi target desain elektronika saat ini, dengan karakter hardware dan master/slave protocol yang sederhana tetapi tangguh.

Jika digunakan device yang telah dilengkapi dengan kemampuan I2C secara built-in, akan sangat mudah untuk melaksanakan komunikasi baik single Master maupun multi Master, tetapi bagi device yang tidak, masih dapat mengemulasikan I2C protocol pada pin-pin I/O-nya asalkan memenuhi syarat karakter hardware dengan cukup mudah untuk single Master tetapi sedikit rumit untuk multi Master.

Artikel ini tidak membahas secara lengkap seluruh kemampuan I2C seperti misalnya I2C mode kecepatan tinggi, tetapi cukup detil memberikan gambaran tentang I2C, untuk mengetahui secara lengkap bisa didapatkan dari referensi untuk artikel ini yang dicantumkan dibawah.

7. Referensi
1. THE I2C-BUS SPECIFICATION VERSION 2.1 JANUARY 2000, PHILIPS SEMICONDUCTOR
2. APPLICATION NOTE AN435A, PHILIPS SEMICONDUCTOR.
3. APPLICATION NOTES I2C SPECIFIC INFORMATION, PHILIPS SEMICONDUCTOR
4. DATA SHEET PCF8591 8-BIT A/D AND D/A CONVERTER, PHILIPS SEMICONDUCTOR

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!